Kamis, 18 Mei 2017

Inokulasi Mikroba



Assalamualaikum  Warahmutullahi Wabarakatu….
        Terlebih dahulu ucapan terima kasih telah mengunjugi blog aku. Jangan lupa kunjungi blog aku yang lainnnya yah!!

Pada blog ini aku akan mengupas sedikit tentang cara Inokulasi Mikroba. Silahkan disimak!!

Berbicara tentang mikroorganisme pasti kebanyakan dari  kita berpikir tentang mahluk kecil yang dapat mengakibatkan kerusakan. Membuat makanan kita mengalami pembusukan, berjamur, dan lebih parah menyebabkan penyakit. Akan tetapi, harus diketahui bahwa tidak semua mikroorganisme seperti itu. Tuhan menciptakan sesuatu pasti  karena ada manfaatnya. Olehnya itu, aku akan membagi sedikit pengetahuan tentang mahluk kecil itu.

 Hasil gambar untuk tempe

Kalian yang mengaku orang Indonesia pasti tahu gambar di atas. Makanan khas Indonesia ini ternyata mengandung berbagai macam mikroba dengan berbagai fungsi loh. Mau tahu mikroba apa saja dan apa fungsinya? silahkan lanjut bacaannya!

Tempe adalah salah satu produk makanan hasil fermentasi yang pembuatannya melibatkan organisme jamur atau kapang, seperti Rhizopus oryzae, Rhizopus oligosporus, dan Rhizopus stolonifer. Rhizopus oryzae termasuk mikroba yang mampu mengurai lemak kompleks menjadi trigliserida dan asam amino dan mampu juga menghasilkan protease. Rhizopus oligosporus berperan dalam mengubah protein menjadi asam amino. Sedangkan, Rhizopus stolonifer mengandung senyawa pektinase. Nah, untuk mengetahui kebenarannya dilakukanlah teknik Inokulasi Mikroba.

 Hasil gambar untuk Inokulasi name

Inokulasi mikroba adalah pemindahan mikroba dari satu media ke media yang lain. Teknik ini bertujuan untuk menumbuhkan mikroba-mikroba pada bahan, yaitu tempe. Teknik yang digunakan untuk menumbuhkan mikroba ada empat, tapi sekarang aku hanya akan membahas dua diantaranya, yaitu metode spread plate dan metode pour plate.

Metode spread plate atau cara sebar adalah teknik menanam  mikroba dengan menyebarkan suspense mikroba di permukaan agar padat. Metode ini dilakukan dengan menuangkan media terlebih dahulu kemudian pada saat  media telah memadat ditetesi suspensi tempe dan diratakan pada permukaan menggunakan Hocky stick.

 Hasil gambar untuk metode spread plate

Metode pour plate atau cara tuang adalah teknik menanam mikroba rata ke seluruh media. Teknik ini memerlukan agar yang belum padat untuk  dituang bersama suspensi mikroba ke dalam cawan petri kemudian dihomogenkan dan dibiarkan memadat. Kita tidak hanya menyebarkan sel-sel mikroba pada permukaan agar saja melainkan sel terendam agar.

 Hasil dari inokulasi mikroba dapat kalian lihat di bawah ini...

Pengamatan ke: 6
Hari/tanggal    : 11 Maret 2017
Tabel 09.  Hasil Pengamatan Mikroba
Jenis media dan sumber mikroba
Metode inokulasi dan FP
Kenampakan
PDA
(Tempe)
Pour Plate (10-4 )
Hifa tumbuh hampir memenuhi permukaan media. Spora berwarna hitam

Spread Plate (10-4 )
Terdapat koloni yang berwarna putih dan kuning.
Sumber : Data Primer Mikrobiologi Umum, 2017.

 Terima kasih atas kunjungannya....

Pengenalan Alat dan Keselamatan Kerja di Laboratorium Mikrobiologi



Salam guys…
Kali ini aku akan membagikan sedikit ilmu tentang fungsi alat di laboratoium.  Kalian pasti pernah melihat benda-benda di laboratorium tapi tidak tahu nama alat dan fungsinya. Kalau kalian penasaran, tepat sekali kalian mengunjungi blog aku... hihihi

Selamat membaca…

Alat di atas namanya autoclave bentuknya kayak tabung ukuran besar. Terbuat dari besi, fungsinya untuk mensterilkan alat dan bahan yang menggunakan uap panas. Uap panasnya bertujuan untuk mematikan kontaminan mikroba dan endospora. Uap air panas yang digunakan itu bertekanan biasanya  1 atm dengan suhu 121oC selama 15 menit. 

 

Kalau ini inkubator dengan bentuk seperti kulkas  tapi ukurannya kecil. Alat ini digunakan untuk menumbuhkan atau mengembangbiakkan mikroba, mempertahankan suhu dan kelembaban. Memeram atau mengingkubasi mikroba pada kisaran suhu konstan. Keseringan di pake untuk memeram mikroba pada media padat. Inkubator juga  dilengkapi dengan pengatur suhu dan waktu. Kecil-kecil tapi fungsinya banyak bener yah…

 

Tidak kalah canggih, alat ini namanya Microwave bentuknya agak memanjang. Alat ini punya piringan, ketika alat ini dinyalakan piringan tersebut akan berputar sehingga membuat bahan menjadi homogen dan larut. Biasanya, alat ini juga digunakan untuk memanaskan dan mensterilkan media melalui gelombang elektromagnetik.


Bingung bener liat kabel-kabelnya… Kalau bentuknya gini, tidak salah lagi pasti Fermentor. Alat paling ribet dan besar pula tapi fungsinya tak diragukan. Fermentor merupakan bejana fermentasi aseptis skala lab yang digunakan untuk memproduksi senyawa pada mikroba, misalnya biofertilizer, biokontrol, biomassa dll. Kabelnya banyak agar dapat menghubungkan semua alat yang mendukung aktivitas fermentor. Jadi, jangan resah karena kabelnya karena tanpa kabel-kabel itu tak ada yang menyatukan mereka ^_^.


Siapa sangka alat seperti ini dapat meyemburkan api tapi begitulah nyatanya. Alat ini namanya Bunsen digunakan untuk menciptakan kondisi steril di sekitar lingkungan tempat melakukan kegiatan preparasi sampel, penanganan mikroba, dan membengkokkan batang pengaduk menjadi Hocky stick akibat dari semburan apinya. Wahh… hebatkan!!

   

Ose bulat dan ose  lurus digunakan untuk isolasi mikroba pada media agar tegak dan agar miring dengan metode gores ataupun tusuk. Bentuknya itu kayak batang L, bedanya pada ose terdapat seperti jarum pada ujungnya yang berbentuk bulat atau  lurus.

      Sekarang kalian sudah tahukan sedikit tentang alat-alat laboratorium. semoga kalian tidak hanya membaca artikelnya tetapi juga memahaminya. Semoga bermanfaat! kalau ada yang belum jelas silahkan komen di bawah....